bagaiman perasaan cinta yang om Prauw
utarakan pada margendut, bagaiman kekecewaan, kerinduan dan bagaimana
orang sedang dalam perasaan cinta semua tertumpahkan dan ter ekspresikan
dalam puisi magendut sayang
Buku margendut sayang akan
di launching tanggal 4 Juni 2012 pas acara Resepsi Pernikahan mereka (
om Prauw dan Margendut) buku ini adalah persembanhan special buat
margendut yang tak lain adalah calon istri om prauw dan buku ini pakai
sebagai souvenir dalam pesta perkawinan
sebab saat menciptakan puisi puisi itu hati ku sedang di ramaiakan oleh teman-temen blogger… hatiku sedang berada di tengah-tengah komunitas blogger Bojonegoroblogger menjadi pelabuhan komunitas dan saksi sejarah saat aku update status dan kadang aku bercerita…. (ingat kan saat di gondang)dan kegiatan njungok wisata yang kita gelar adalah tonggak sejarah perjalan cinta ku … sebab saat dari malo aku mebelikan celeangan kodok itu pdkt makin menjadi jadi walau sebelumnya aku jatuh bangun untuk mengejar margendut
(cupikan obrolan Dedexz dengan Om Prauw)
Prawoto R.Sujadi adalah seorang di salah
satu guru SMP di Bojonegoro dan aktif sebagai pegiat Sindikat baca,
Pengembang Literasi, Blogger Bojonegoro dan punya hobby fotografi.
puisinya juga dimuat dalam kumpulan cerpen Puisi “Blimbing Dewo’ (2012)
diterbitkan sanggar Guna,
“Mas kawin seperangkat alat sholat dan
emas itu sudah biasa, tapi plus buku puisi, itu sungguh hanya dilakukan
oleh pria yang sangat mencintai pasangannya dan menunjukan tidak akan
poligami !”
(Gol a Gong, ayah 4 anak, Sastrawan, Pengelola Rumah Dunia)
(Gol a Gong, ayah 4 anak, Sastrawan, Pengelola Rumah Dunia)
Barisan kata mengundang senyum, yang
senyum itu mengundang cinta. Nah itulah puisi-puisi yang diciptakan oleh
Prawoto. Dalam setiap kata ada kejujuran, yang berjingkat-jingkat
mengendong rasa cinta. Membacanya seperti sedang minum es crim di senja
yang temaram.
(Nanang Fahrudin, Jurnalis Koran SINDO, Penulis buku Membaca Bojonegoro)
(Nanang Fahrudin, Jurnalis Koran SINDO, Penulis buku Membaca Bojonegoro)
… Saya selalu senang jika berbincang
dengan Prawoto, ada semangat didalam dirinya. Saya berharap semangat itu
ditularkan dalam puisi-puisinya yang saat ini ada ditangan anda.
Semangat untuk membaca, menulis dan bergerak!
(Anas AG, Penulis buku si Pandir & Dongeng Anglingdarma)
(Anas AG, Penulis buku si Pandir & Dongeng Anglingdarma)
…//di lubang telinga/ mesra terdengar/
menggetarkan asa,/ memenuhi perintah agama,/ menjadi ibadah kita
bersama// katamu saat kau meng-iya-kan ku// (Puisi Meng-iya-kan). Puisi
Prawoto R Sujadi ini menjadi bukti, setiap orang yang sedang pada puncak
jatuh cinta akan mampu menuliskan puisi yang berenergi, bertenaga.
Energi yang sama yang memampukannya menulis puisi sebegitu banyak dan
semuanya tentang cinta baik dikatakan kepada yang dicintainya, kepada
diri sendiri, kepada orang lain.
(Yonanthan Raharjo, penulis Novel Lanang, pemenag sayembara novel di Dewan Kesenian Jakarta 2008)
(Yonanthan Raharjo, penulis Novel Lanang, pemenag sayembara novel di Dewan Kesenian Jakarta 2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar