Selasa, 10 Juli 2012

Persembahan untuk Istri

Buku Puisi Margendut Sayang adalah buku karya Prawoto R. Sujadi atau temen-temen blogger biasa pangil @omprauw isinya adalah kumpulan puisi yang bercerita, mengarsipkan, menulis dari perjalanan om prauw dengan margendut (Shellalhizha K Gusmar) sejak awal kenalan sampai akhirnya memutuskan untuk ke pelaminan.
bagaiman perasaan cinta yang om Prauw utarakan pada margendut, bagaiman kekecewaan, kerinduan dan bagaimana orang sedang dalam perasaan cinta semua tertumpahkan dan ter ekspresikan dalam puisi magendut sayang
Buku margendut sayang akan di launching tanggal 4 Juni 2012 pas acara Resepsi Pernikahan mereka ( om Prauw dan Margendut) buku ini adalah persembanhan special buat margendut yang tak lain adalah calon istri om prauw dan buku ini pakai sebagai souvenir dalam pesta perkawinan
sebab saat menciptakan puisi puisi itu hati ku sedang di ramaiakan oleh teman-temen blogger… hatiku sedang berada di tengah-tengah komunitas blogger Bojonegoro
blogger menjadi pelabuhan komunitas dan saksi sejarah saat aku update status dan kadang aku bercerita…. (ingat kan saat di gondang)
dan kegiatan njungok wisata yang kita gelar adalah tonggak sejarah perjalan cinta ku … sebab saat dari malo aku mebelikan celeangan kodok itu pdkt makin menjadi jadi walau sebelumnya aku jatuh bangun untuk mengejar margendut
(cupikan obrolan Dedexz dengan Om Prauw)
Prawoto R.Sujadi adalah seorang di salah satu guru SMP di Bojonegoro dan aktif sebagai pegiat Sindikat baca, Pengembang Literasi, Blogger Bojonegoro dan punya hobby fotografi. puisinya juga dimuat dalam kumpulan cerpen Puisi “Blimbing Dewo’ (2012) diterbitkan sanggar Guna,
“Mas kawin seperangkat alat sholat dan emas itu sudah biasa, tapi plus buku puisi, itu sungguh hanya dilakukan oleh pria yang sangat mencintai pasangannya dan menunjukan tidak akan poligami !”
(Gol a Gong, ayah 4 anak, Sastrawan, Pengelola Rumah Dunia)
Barisan kata mengundang senyum, yang senyum itu mengundang cinta. Nah itulah puisi-puisi yang diciptakan oleh Prawoto. Dalam setiap kata ada kejujuran, yang berjingkat-jingkat mengendong rasa cinta. Membacanya seperti sedang minum es crim di senja yang temaram.
(Nanang Fahrudin, Jurnalis Koran SINDO, Penulis buku Membaca Bojonegoro)
… Saya selalu senang jika berbincang dengan Prawoto, ada semangat didalam dirinya. Saya berharap semangat itu ditularkan dalam puisi-puisinya yang saat ini ada ditangan anda. Semangat untuk membaca, menulis dan bergerak!
(Anas AG, Penulis buku si Pandir & Dongeng Anglingdarma)
…//di lubang telinga/ mesra terdengar/ menggetarkan asa,/ memenuhi perintah agama,/ menjadi ibadah kita bersama// katamu saat kau meng-iya-kan ku// (Puisi Meng-iya-kan). Puisi Prawoto R Sujadi ini menjadi bukti, setiap orang yang sedang pada puncak jatuh cinta akan mampu menuliskan puisi yang berenergi, bertenaga. Energi yang sama yang memampukannya menulis puisi sebegitu banyak dan semuanya tentang cinta baik dikatakan kepada yang dicintainya, kepada diri sendiri, kepada orang lain.
(Yonanthan Raharjo, penulis Novel Lanang, pemenag sayembara novel di Dewan Kesenian Jakarta 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar